biografi KH. ABDULLAH AMIIN (Ketua Pengurus Pertama)

 

KH.Abdullah Amiin.

Setiap daerah kerap kali menyimpan kisah tentang sosok-sosok mulia yang mengabdikan seluruh hidupnya demi kemajuan agama, pendidikan, dan masyarakat. Di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, nama KH. Abdullah Amiin terpatri kuat dalam ingatan kolektif warga. Beliau bukan sekadar ulama biasa, melainkan seorang muharriq (penggerak), pendidik gigih, serta pengayom umat yang dedikasinya tak pernah padam hingga akhir hayat.

Mari kita selami lebih dalam rekam jejak perjuangan, keteladanan, serta warisan kebaikan yang ditinggalkan oleh sosok kyai panutan ini.

1. Akar Keluarga dan Masa Muda: Tumbuh dalam Lingkungan Religius

Lahir dan besar di Malang, KH. Abdullah Amiin tumbuh dari pasangan suami istri yang dikenal sangat taat beragama, yaitu H. Ali Abdul Syukur dan Hj. Siti Fatimah. Ayah beliau, H. Ali Abdul Syukur, merupakan seorang figur terpandang yang akrab disapa Pak Moden Piyo Putatlor sekitar dekade 1960-an. Lingkungan keluarga yang kental dengan nuansa Islami ini membentuk karakter dasar Abdullah Amiin muda menjadi pribadi yang santun, disiplin, dan memiliki rasa haus akan ilmu agama.

Sejak kecil, pondasi keilmuan dan ketakwaan beliau ditanamkan secara langsung oleh kedua orang tuanya di rumah. Bimbingan dasar ini menjadi pijakan kokoh yang menemani langkah beliau saat beranjak dewasa.

2. Menimba Ilmu di PPAI Ketapang Kepanjen: Menggembleng Diri bersama Sang Kyai

Untuk memperdalam khazanah keislaman, KH. Abdullah Amiin melanjutkan riwayat pendidikannya ke salah satu pondok pesantren ternama di Malang, yakni Pondok Pesantren PPAI Ketapang, Kepanjen, Malang.

Di PPAI Ketapang, beliau berpetualang menyerap ilmu-ilmu syariat di bawah bimbingan langsung ulama kharismatik, KH. Moh. Said. Di pesantren inilah kegigihan dan ketekunan beliau makin terasah. Menariknya, dalam perjalanan menuntut ilmu di sana, KH. Abdullah Amiin berada dalam satu kelas bahkan satu kamar dengan KH. Muhsin (Maqbul, Bululawang). Persahabatan dan ikatan keilmuan sesama santri ini melahirkan semangat perjuangan dakwah yang kelak terus mengalir hingga mereka terjun ke tengah masyarakat.

3. Membangun Bahtera Rumah Tangga yang Penuh Keberkahan

Setelah menyelesaikan masa penjelajahan ilmunya, KH. Abdullah Amiin menetap di Desa Urek-Urek RT 25 RW 04, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di desa inilah beliau membangun keluarga bersama sosok wanita shalihah, Hj. Sholikhah binti Kyai Shohib bin KH. Abdurrahman.

Pernikahan yang didasari atas ketakwaan ini dikaruniai 8 orang putra-putri. Dari rahim keluarga yang hangat dan religius ini, KH. Abdullah Amiin dan Hj. Sholikhah berhasil mendidik anak-anak mereka menjadi generasi penerus perjuangan dakwah dan organisasi keharmonisan umat.

Putra-putri beliau di antaranya:

  1. Hj. Rofiatin (Pebisnis sekaligus Ketua Muslimat NU Ranting Desa Urek-Urek)
  2. Asnifah (Pedagang)
  3. H. Nadhiroh (guru sekaligus Ketua 3 PAC Muslimat NU Gondanglegi)
  4. Siti Rohmah (guru dan Founder TPQ Al-Hikmah)
  5. Siti Asiyah (Putatlor)
  6. Ibu Nya Hj. Nikmatul Hasanah (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’bar di Jepara)
  7. H. Zainuddin, MPd. (Guru-Dosen, Kepala Madrasah MI. MIFTAHUL ULUM, Ketua LP Ma'arif NU Kec. Gondanglegi, Sekretaris PRNU Desa Urek-Urek, Sekretaris PC LKKNU Kab. Malang, serta Pengurus PC ISNU Kab. Malang)
  8. Amirul Muslimin (Pedagang)

Jejak bakti putra-putri beliau di jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama serta lembaga kemasyarakatan menjadi bukti nyata keberhasilan KH. Abdullah Amiin dalam menanamkan nilai-nilai kejuangan dan khidmah kepada agama.

4. Dedikasi Pendidikan dan Keilmuan di Yayasan Miftahul Ulum

KH. Abdullah Amiin dikenal sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap pendidikan Islam masyarakat sekitar. Beliau prihatin jika anak-anak di lingkungannya tumbuh tanpa pemahaman agama yang memadai.

Keresahan dan kepedulian tersebut diwujudkan dalam aksi nyata. Beliau menjadi pelopor sekaligus dipercaya masyarakat untuk menjabat sebagai Ketua Pengurus Pertama Yayasan Madrasah Miftahul Ulum Urek-Urek. Lewat wadah madrasah inilah, beliau meletakkan batu pertama sistem pendidikan Islam yang terstruktur di Desa Urek-Urek, melahirkan generasi muda yang pandai mengaji, berakhlak mulia, dan berpengetahuan.

5. Menjadi Imam dan Pengayom Masjid Jami' Al-Musthofa

Kehadiran KH. Abdullah Amiin di tengah warga Desa Urek-Urek membawa ketenangan. Sikapnya yang gigih, tekun, dan taat beragama membuat masyarakat tanpa ragu mengangkatnya sebagai kyai, tokoh agama utama, sekaligus Imam Masjid.

Beliau tercatat memegang amanah sebagai Ketua Ta'mir Masjid "Darul Hikmah" (sekarang dikenal sebagai Masjid Jami' Al-Musthofa) sejak era 1970-an hingga pertengahan 1980-an. Tak sekadar mengurus administrasi dan fisik masjid, beliau juga bertindak sebagai Imam Masjid Jami' Al-Musthofa yang konsisten mengimami shalat berjamaah, memberikan ceramah, serta membuka pintu rumahnya untuk konsultasi keagamaan warga.

6. Sosok Muharriq / Penggerak Nahdlatul Ulama (NU)

Tidak hanya aktif di lingkungan lokal tempat tinggalnya, KH. Abdullah Amiin juga mendedikasikan hidupnya untuk jam'iyah Nahdlatul Ulama. Beliau adalah seorang Muharriq—penggerak roda organisasi yang tak kenal lelah.

Komitmen beliau terbukti saat diberi amanah menjabat sebagai Ketua Tanfidhiyah Pengurus Ranting NU Desa Urek-Urek dalam kurun waktu yang cukup panjang, yakni dari kurun tahun 1970-an hingga tahun 1990-an. Selama puluhan tahun memimpin Tanfidhiyah, beliau berhasil merawat tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jama'ah, mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta menggerakkan berbagai kegiatan sosial-keagamaan di Gondanglegi.

7. Wafat dan Warisan Perjuangan Abadi

Setelah merangkai perjalanan hidup yang penuh dengan keteladanan, pengabdian, dan dakwah, KH. Abdullah Amiin dipanggil menghadap Sang Khaliq pada tanggal 9 November 2001.

Sebagai bentuk penghormatan dan kenangan mendalam atas jasa-jasanya, almarhum KH. Abdullah Amiin dimakamkan di halaman depan rumah beliau, yang letaknya berhadapan langsung dengan halaman depan Masjid Jami' Al-Musthofa. Keberadaan makam beliau di area masjid dan rumah tinggalnya menjadi pengingat abadi bagi warga Urek-Urek akan sosok kyai yang tak pernah jauh dari masjid dan jamaahnya.

Penutup: Meneladani Gigihnya Perjuangan Beliau

Kisah hidup KH. Abdullah Amiin menyajikan banyak pelajaran berharga tentang arti sebuah kesetiaan dalam berkhidmah. Dari seorang santri yang tekun menimba ilmu, beliau tumbuh menjadi pionir pendidikan, pemimpin umat, serta penggerak Nahdlatul Ulama yang gigih.

Semangat dan kegigihan beliau kini diteruskan oleh putra-putri serta masyarakat yang pernah merasakan ketulusan bimbingannya. Semoga teladan dan amalan mulia KH. Abdullah Amiin mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan perjuangan beliau terus menginspirasi kita semua. Lahu al-Faatikhah.

 

0 comments: